![]() |
| Cerpen Perempuan Berpayung Biru (Canva) |
Hari ini pukul 15.15 WIB aku berjalan menyusuri trotoar kampus dari arah kosku. Kampusku memang tak begitu jauh dari rumah kos, hanya dengan berjalan sepuluh menit saja aku sudah menapakkan kaki di lantai keramik gedung kampus. Awan mendung di langit Yogyakarta terlihat begitu jelas sore ini. Aku masih melangkah ringan menapaki trotoar sambil mendengarkan musik dari earphone ponselku.
Ketika langkahku mulai memasuki pelataran kampus, mataku menangkap sesosok perempuan dengan payung biru berjalan melewatiku dengan kepala tertunduk. Kerudung putih yang ia kenakan melambai ringan tertiup angin. Sekilas aku melihat wajahnya, bibir yang tanpa senyum itu terlihat pucat dengan pandangan mata yang tajam. Ia masih menunduk dan berjalan dengan pelan. Kenapa ia sudah memakai payungnya? Sedangkan ini belum hujan. Tidak mau mengurusi orang lain aku melanjutkan perjalananku menuju kelas, karena sebentar lagi mata kuliah akan dimulai.
*
Sabtu adalah hari yang melelahkan, bagaimana tidak jika semua mata kuliah yang tertunda sebelumnya diganti pada hari itu. Dan akhirnya inilah yang membuatku pulang pukul 17.20 WIB hari ini. Dengan perasaan yang masih dongkol dan dengan badan yang capek, aku mulai melangkahkan kaki menuju kosku yang pasti akan terasa sejauh sepuluh kilometer rasanya. Oke, pikiranku mulai kacau.
Dengan langkah lambat aku menyusuri trotoar panjang kampusku. Tentu masih dengan earphone di telingaku. Namun tak berapa lama aku menyusuri trotoar, aku melihat perempuan dengan payung biru itu lagi. Kali ini duduk di kursi di bawah pohon mahoni dekat dari perpustakaan. Masih dengan jilbab putihnya dia mengayun-ayunkan kakinya pelan. Tak sadar kakiku mulai berhenti berjalan dan beralih memerhatikan perempuan itu. Hari ini tidak begitu mendung, dan hari sudah mulai gelap. Apa yang ia lakukan sendirian di tempat seperti ini? Apakah ia menunggu seseorang dengan payungnya itu?
Tak beberapa lama kemudian, perempuan itu beralih menatapku. Aku tersentak, dan segera melemparkan senyuman permohonan maaf karena telah kepergok memerhatikan dirinya. Namun gadis yang kuberi senyum itu hanya menatapku tanpa berkedip, apalagi tersenyum balik. Aku menghela napas bingung. Setelah itu aku buru-buru mengambil langkah cepat dari tempat itu. Punggungku serasa ditusuk dengan tatapan tajam. Tiba-tiba tengkukku merinding. Tanpa kembali menoleh ke belakang aku melangkahkan kakiku dengan cepat, rasa capekku setelah kuliah berganti menjadi rasa takut secara tiba-tiba.
*
Setelah kejadian di hari itu, aku selalu mimpi buruk, bahkan ini sudah yang ketiga kalinya. Aku tidak tahu mengapa, mungkin hanya sugesti buruk yang membuat kejadian itu terbawa sampai ke dalam mimpiku. Harusnya aku bisa lebih tenang lagi. Namun tatapan perempuan itu... haishh.. aku menepuk-nepuk pipiku kesal.
Hari ini aku ada kuliah pagi dan rapat redaksi untuk penerbitan majalah kampus sore ini. Jadi, setelah siap-siap aku segera berangkat ke kampus dengan perasaan yang kucoba untuk terlihat baik-baik saja.
*
"Oh iya Pril, entar bagian ini kamu edit lagi, ya!" mbak Ines menepuk bahuku seraya memberikan berkas yang harus ku edit, aku mengangguk ringan.
Akupun membuka laptop untuk memulai mengedit bahan. Tiba-tiba mas Akhsan menaruh beberapa berkas di mejaku, dia menarik kursi dan duduk di hadapanku. Berkas itu terlihat berdebu dan kusut.
"Berkas apa itu mas?" tanyaku penasaran.
"Oh.. ini berkas pengurus majalah ini beberapa tahun lalu, berantakan di lemari. Jadi niatku mau aku beresin," jawabnya sambil mulai membereskan dan membersihkan debunya.
Tiba-tiba mataku tertancap pada sebuah foto selebar 10 R, dengan gambar beberapa mahasiswa di dalamnya. Saat itulah aku menemukan sosok itu, perempuan dengan kerudung putih itu, dia tersenyum manis di foto ini. Berbeda dengan sosok yang kutemui tanpa senyum itu. Aku menarik foto itu dari tumpukan berkas.
"Mas, ini siapa ya?" tanyaku pada mas Akhsan seraya menunjuk pada sosok perempuan itu.
"Oh.. ini mbak Aisha, pengurus majalah ini tahun 2008. Tapi... sayangnya dia udah meninggal setahun yang lalu, karena kecelakaan di depan kampus," Aku menelan ludah, napasku tercekat. "Dia tertabrak mobil saat sedang gerimis, katanya sih dia nggak lihat jalan karena tertutup payung, dan dia langsung meninggal di ...." tiba-tiba suara mas Akhsan mulai terdengar samar di telingaku, dan tiba-tiba saja pandanganku mengabur dan... gelap.
***

Komentar
Posting Komentar