Langsung ke konten utama

Mengubah Sampah Menjadi Batik: Perjalanan Desa Sejahtera Astra Singkawang

Ilustrasi membatik/unsplash (Mahmur Marganti)

Desa Sejahtera Astra Singkawang telah membuktikan bahwa inovasi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Pada tahun 2025, inisiatif berbasis komunitas ini dengan bangga meraih Juara Kedua di Festival Astra 2025 dalam kategori Inovasi Kewirausahaan Berbasis Komunitas. Prestasi mereka menunjukkan bagaimana kreativitas, kearifan lokal, dan kepedulian lingkungan dapat memberdayakan perekonomian pedesaan sekaligus melindungi alam.

Dari Desa Kerajinan Menjadi Pelopor Berkelanjutan


Desa Sejahtera Astra Singkawang adalah komunitas yang berkembang pesat dan dikenal akan kerajinan serta produk keseniannya. Karya unggulan dari Desa Sejahtera Astra Singkawang adalah kain batik dan produk turunannya yang telah menjadi simbol kebanggaan budaya sekaligus ketahanan ekonomi. 


Dengan meningkatnya permintaan batik, masyarakat melihat peluang tidak hanya untuk memperluas produksi, tetapi juga untuk mengatasi tantangan lingkungan yaitu, pengelolaan sampah.


Tidak hanya mengandalkan pewarna sintetis, para perajin mulai bereksperimen dengan pigmen alami yang diekstrak dari bahan limbah lokal. Inovasi mereka tidak hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga memberi batik Singkawang identitas unik yang berakar pada keahlian ramah lingkungan.

Memanfaatkan Sisa Alam


Para perajin Singkawang menemukan bahwa sampah sehari-hari seringkali mengandung pigmen alami yang belum dimanfaatkan. Dengan mengeksplorasi metode kreatif, mereka mengubah sampah menjadi sumber daya yang berharga. 


Berikut ini adalah daftar sampah alami di lingkungan sekitar yang dimanfaatkan oleh Desa Sejahtera Astra Singkawang untuk membuat batik dan kerajinan lainnya: 


1. Tinta Cumi

Tinta cumi yang biasanya dibuang selama pemrosesan cumi kering ternyata merupakan pewarna alami yang ampuh. Pigmen hitam pekatnya melekat kuat pada kain, menghasilkan corak yang pekat dan tahan lama yang memperkaya motif batik.


2. Ampas Kopi

Dengan banyaknya kedai kopi di Singkawang yang menyumbang sampah sehari-hari, ampas kopi yang dibuang menimbulkan masalah lingkungan yang semakin besar. Kaya akan tanin, kafein, dan antioksidan, ampas kopi terbukti menjadi sumber pigmen cokelat yang sangat baik. Ketika diproses, ampas kopi menghasilkan warna-warna tanah yang tahan lama dan mencolok secara visual.


3. Daun Ketapang

Sering berserakan di jalanan kota dan lingkungan perkantoran, daun ketapang yang gugur dulunya dianggap tak berguna. Namun, ketika dihancurkan dan direbus, daun tersebut melepaskan ekstrak alami yang menghasilkan rona warna mulai dari hijau tentara dan zaitun hingga abu-abu lembut, tergantung pada fiksatif yang digunakan.


Dengan demikian, pewarna ramah lingkungan ini tidak hanya meminimalkan limbah tetapi juga menciptakan corak khas yang membuat batik Singkawang menonjol.

Memberdayakan Desa Melalui Program Astra

Keberhasilan para perajin Singkawang berkaitan erat dengan Program Desa Sejahtera Astra, sebuah inisiatif kontribusi sosial jangka panjang Astra yang berfokus pada kewirausahaan berbasis wilayah. Program ini memberdayakan masyarakat pedesaan dengan mengembangkan potensi lokal dan produk unggulan mereka, yang bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi dan daya saing global.


Dukungan yang diberikan meliputi pelatihan keterampilan, penguatan kelembagaan, bantuan infrastruktur, akses permodalan, dan fasilitasi pemasaran produk. Kolaborasi juga menjadi kunci Astra bekerja sama dengan lembaga pemerintah, universitas, perusahaan rintisan, masyarakat lokal, dan penduduk desa itu sendiri.

Sebuah Model Pembangunan Berkelanjutan

Kisah Desa Sejahtera Astra Singkawang menjadi bukti nyata bagaimana inovasi yang berakar pada kearifan lokal dapat membawa perubahan berkelanjutan. Dengan menyulap limbah menjadi karya seni, masyarakat tidak hanya melestarikan batik sebagai khazanah budaya Indonesia, tetapi juga menunjukkan solusi praktis terhadap tantangan lingkungan.


Seiring terus menyempurnakan kerajinan mereka, para perajin Singkawang menginspirasi desa-desa lain di seluruh Indonesia untuk merangkul keberlanjutan, kreativitas, dan kolaborasi sebagai jalan menuju kesejahteraan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA KITA BARU KERJA TAPI UDAH DISURUH MIKIRIN PENSIUN?

  Kerja untuk pensiun (unsplash/Marten Bjork) Aku baru saja kerja sebagai pegawai kontrak di sebuah media online yang cukup ternama di Indonesia. Namun, situasi kurang mengenakkan terjadi beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja, perusahaan melakukan lay off ke sejumlah pegawai. Hal itu tentu membuat gonjang-ganjing seisi kantor.  Sebenarnya, bukan itu yang mau aku komentarin. Tapi, lebih kepada sisi, kenapa kita baru kerja tapi dipaksa untuk pensiun? Memang, sebenarnya aku sudah bekerja di perusahaan yang bersangkutan sejak 2018 lalu sebagai kontributor lepas hingga editor lepas.  Namun, keberuntungan memihakku hingga akhirnya setelah 4 tahun bekerja sebagai freelancer , mereka menawariku posisi sebagai karyawan kontrak. Akan tetapi, baru berjalan setahun aku bekerja sebagai karyawan kontrak, banyak pegawai yang di- lay off dan tiba-tiba tidak memiliki pekerjaan tetap lagi. (Aku tidak tahu, apakah mereka punya kerjaan sampingan atau yang lainnya). Jujur saja, ini membuatku...

PROLOG KEMAGERAN

                                          Prolog kemageran (Unsplash/Manja Vitolic) Hello, sebulan lebih gue ngilang. Padahal setelah janji pengen konsisten buat nulis. Hehehe  Sebenarnya menghilangnya gue bukan tanpa alasan, kali ini gue bakal nyalahin tugas akhir gue, yaitu skripsi. Dan dalam istilah kamus mahasiswa akhir yang   sering dipake sama temen-temen gue adalah “Skripsweet”. Istilah ini dipake  ama orang yang seneng karena mereka ngerasa udah jadi mahasiswa sesungguhnya dengan adanya skripsi dan enjoy-enjoy aja waktu ngerjain skripsi, atau “Skripshit” yang biasanya istilah ini dipake ama mahasiswa yang ngerjain skripsi itu kaya misi penyelamatan dunia. Penuh jebakan, perlu amunisi yang memadai, strategi yang matang, dan siap dikejar musuh alias ‘deadline’. Emang sih nggak setiap waktu gue ngerjain skripsi, tapi ada secercah kemageran kalo gue harus lama-...